Skip to main content

Posts

Wasiet (43)

  SAKDIAH memeluk Si Kecil. Ia kasihan dengan anaknya itu yang mengalami kemalangan. Si Kecil memang jarang bertemu dengan ayahnya sejak lahir. Ia hanya bertemu dengan ayahnya beberapa kali. Jika pun bertemu, tak lebih dari dua hari. Ayahnya kemudian kembali pergi untuk bergerilya. Meninggalkan mereka berbulan-bulan tanpa kejelasan, apakah masih hidup atau syahid dalam perang. Setidaknya itu yang diyakini oleh suaminya dan orang-orang yang menyertainya selama ini. Konflik dan dendam membuat keluarganya tak pernah utuh. Namun Sakdiah sendiri yakin bahwa ada banyak keluarga yang mengalami nasib lebih buruk darinya. Untuk itu, ia harus bertahan. “Kamu pasti akan kembali ke sekolah nak. Ayahmu pasti menjemput kita dan pulang bersama,” ujar Sakdiah kemudian. Si Kecil tersenyum. Ia kemudian mengangguk berulangkali. “Bang Budi, ajari aku membaca. Aku tidak mau diledeki sama Bang Man lagi,” ujarnya kemudian. Bang Man yang dimaksud adalah Abdurrahman. Bang Man adalah panggilan Si Kecil untu...

Wasiet (42)

  SAAT keadaan dirasakan aman, wanita paruh baya tadi dan dua anaknya keluar dari lokasi persembunyian. Kedua anaknya itu terlihat ketakutan. Ini bukan kali pertama mereka digedor serta diincar oleh pria berbaju loreng. Sepekan lalu, rumah mereka di Nicah Awe juga digeledah oleh tentara republic. Para tentara mencari suaminya yang terlibat dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Suaminya, salah satu pimpinan pasukan gerilya di Simpang Ulim. Namanya Hanafiah, tapi akrab disapa Teungku Fiah. Saat itu, anaknya yang tertua turut diambil paksa. Nasib anaknya itu kini tak ada kejelasan. Ia hanya berharap anaknya itu masih hidup. Walaupun harapan tersebut sangat tipis. Sedangkan anaknya yang kedua menderita luka yang cukup serius. Ia menerima beberapa tendangan di dada dan ulu hati saat hendak memisahkan abangnya dari penangkapan paksa. Meski peristiwa tersebut sudah berlalu sepekan, tetapi kilas balik kejadian masih membekas di ingatan. Hal ini pula yang membuat mereka harus pindah dari satu ...

Wasiet (41)

  Simpang Ulim, 1997 BELASAN pria berpakaian loreng terlihat hilir mudik. Mereka mengetuk sejumlah rumah dan memeriksa satu persatu. Gerak mereka cepat dan sejumlah barang terlempar keluar. Mereka masuk sekitar 5 menit per rumah. Namun kemudian keluar tanpa hasil. Hasil yang sama juga dituai untuk 4 rumah selanjutnya. Sejumlah pria berpakaian loreng itu terlihat kesal. Namun yang dihadapi adalah ibu-ibu. Tak ada satu orang pria pun di rumah yang dapat dijadikan tempat pelampiasan. Tak ada juga lelaki dan wanita muda. Selama konflik, mereka mungkin telah diungsikan ke kota. Tinggal ibu-ibu dan anak-anak yang masih kecil di rumah. Mereka lah yang menghadapi tentara ketika murka atau mencari orang-orang yang dianggap bersalah pada negara. “Kalau Ibu lihat mereka, segera kasih tahu.” Ucapan itu terdengar dari kejauhan. “Saya tak akan menjamin keselamatan ibu kalau ternyata menyembuyikan pemberontak di sini.” “Get pak, get pak.” Suara itu kembali terdengar. Diam-diam, seorang wanita par...

bahasa aceh Part 6

  Budaya berbahasa Aceh lazim digunakan dalam kehidupan sehari hari, dan ini merupakan salah satu karakter asli orang Aceh. Salah satu contoh cara  membedakan orang asli Aceh atau bukan dapat dilihat dari berbicara  dengan lahirnya aksen, lekuk lidah yang khas yang hadir ketika berkomunikasi, kebanyakan dari orang asli Aceh akan kelihatan logatnya  saat berbicara. Bahasa merupakan cermin identitas dari adat budaya suatu masyarakat, apabila ingin mengenal karakter suatu masyarakat salah satunya kita harus memahami bahasanya.  Bahasa Aceh merupakan bahasa pada umumnya paling banyak digunakan oleh masyarakat Aceh, yakni sekitar 70% dari total penduduk Aceh (Daud, 1997:10, Daud and Durie, 1999:1) Kamoe : Kami Aduen : Abang Kee : Aku Aneuk : Anak Bit : Benar Gata : Anda, sudara Le : Banyak Eh : Tidur Bek : Jangan Boh : Buah Saleh : Salih Kamoe : Kami Aduen : Abang Kee : Aku Aneuk : Anak Bit : Benar Gata : Anda, sudara Le : Banyak Eh : Tidur Bek : Jangan Boh : Buah Sa...