Skip to main content

Posts

Showing posts from March, 2020

Studi: Hantaman Asteroid 13 Ribu Tahun Lalu Musnahkan Suriah Kuno

Jakarta – Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam Science Report mengungkap objek benda langit asteroid yang menghantam Bumi hampir 13 ribu tahun lalu. Hantaman yang mengakhiri era Pleistosen itu telah memusnahkan peradaban kuno di wilayah yang sekarang disebut Suriah. Penelitian dilakukan tim di University of California-Santa Barbara, Amerika Serikat. Mereka menemukan material kaca dan sisa-sisa mineral seperti kromium, besi, nikel yang semuanya terbentuk dalam suhu lebih tinggi dari 2.200 derajat Celcius. “Suhu tinggi seperti itu akan benar-benar melelehkan mobil dalam waktu kurang dari satu menit,” kata profesor geologi James Kennett yang juga anggota tim penulis studi itu seperti dikutip dari New York Post, 10 Maret 2020. Penemuan itu didapat dari sebuah situs yang dikenal sebagai Abu Hureyra, yang ditinggalkan sekitar 5 ribu tahun yang lalu. Sedang zaman Pleistosen umumnya didefinisikan dimulai sekitar 2,6 juta tahun yang lalu dan berakhir sekitar 11.700 tahun yang

8 Februari 1904; Sejarah Kelam Belanda Bantai Warga Gayo

Pelabuhan Ulee Lheue di Banda Aceh siang itu mendadak riuh. Tiga kapal Belanda berukuran besar merapat, membawa ratusan orang yang diangkut dari tanah seberang. Tak kurang dari 10 orang perwira, 13 bintara, serta ahli geologi dan tenaga medis berkebangsaan Eropa turut dalam rombongan tersebut. Itu termasuk 473 orang mandor, puluhan kuli paksa, penunjuk jalan, serta 208 anggota Marsose alias Korps Marechaussee te Voet, satuan militer yang bernaung di bawah Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL) alias Tentara Kerajaan Hindia Belanda. Sebagian besar anggota Marsose berasal dari orang lokal. Mereka adalah para pemuda dari Jawa hingga Maluku untuk dijadikan sebagai prajurit kolonial, termasuk menjalankan misi penting di Tanah Rencong. Kala itu, 8 Februari 1904, tepat hari ini 116 tahun lalu, Belanda memulai operasi militer untuk mengakhiri Perang Aceh yang telah berlangsung selama tiga dekade sekaligus menangkap Cut Nyak Dien yang masih melakukan perlawanan dengan cara berg

Sepotong Memori Tentang Arakundo

PRIA paruh baya itu terdiam. Ia berkali-kali menarik rokoknya dalam dalam. Asapnya mengepung seisi warung kopi. Sebelumnya ia bicara banyak soal sejarah Peureulak. Namun berubah jadi pendiam saat ditanya soal tragedi Arakundo. Beberapa pria muda di sekelilingnya juga terdiam. Kebetulan saat itu kami sedang berada di salah satu Warkop dekat jembatan Arakundo, akhir Oktober 2019. “Tak mungkin saya melupakan tragedi itu. Biasanya kami mancing ikan, tapi hari itu kami mancing mayat dalam karung,” kenangnya. Ia tidak mau ditulis nama. Dua puluh tahun lebih berlalu, dan Aceh kini berdamai, namun horor masa lalu masih begitu membekas di-ingatnya. “Karung-karung itu berisi mayat. Ada batu yang di isi di dalamnya agar tak mengapung,” ujar dia sambil menarik nafas dalam-dalam. +++ Dari berbagai sumber, tragedi pembantaian di Idi Cut, atau dikenal luas dengan nama Tragedi Arakundo, adalah sebuah peristiwa pembantaian sipil yang terjadi pada 4 Februari 1999 di Idi Cut, Kabupaten Ac

Mendadak Tak Bisa Cium Aroma Jeruk, Pria Ini Ternyata Positif Corona

Seorang pria bernama Hugh Mason menyadari dirinya kehilangan indra pencium pada Senin (23/3/2020). Ia sadar saat tak bisa mencium aroma jeruk yang sedang dikupas istrinya. “Istri saya mengupas jeruk dan saya pikir, itu aneh, saya tidak bisa mencium baunya,” kata pria 53 tahun itu kepada  The Straits Times,  dikutip dari  Asia One , Senin (30/3/2020). Mason, seorang asisten profesor di Fakultas Teknik Universitas Nasional Singapura, menjelaskan bahwa ia telah membaca laporan yang mengatakan gejala dari virus corona COVID-19 dapat dikaitkan dengan hilangnya kemampuan indera penciuman pada kasus-kasus tertentu. Akhirnya ia memutuskan untuk berkonsultasi dengan dokternya pada Kamis (26/3/2020) menanyakan apakah ia memang positif virus corona COVID-19. Mason kemudian pulang ke rumah dan menyendiri sambil menunggu hasilnya keluar. Hari berikutnya ia menerima telepon dari pihak rumah sakit yang memintanya untuk kembali dan tes lebih lanjut. Tes menunjukkan ia positif virus coron

Sepercik Cinta dan Hidayah

PART 6 “Masya Allah suaranya bagus sekali ya kak, hati berdebar mendengarnya” “ Kakak dari pertama mendengarnya udah tersentuh dengan bacaannya itu” “Oiya kak memang fitrah kelas berapa sekarang, aku benar-benar belum pernah berjumpa dengannya” “Kelas II IPA , dia bagian Agama di OSIS” “Anak IPA pantes aja aku belum pernah melihatnya atau aku aja yang kurang informasi, padahal aku juga bagian agama kak” “Kakak rasa kamu yang terlalu santuy celoteh akmal sambil senyum” {Pembacaan tilawah telah selesai dan fitrah kembali menuju ruang tunggu} “Fitrah bacaan tilawahnya bagus sekali kata akmal dan rafael secara serentak” “Alhamdulillah, terimah kasih, sepatah jawabannya langsung menuju tempat duduk” Akhirnya acara perpisahan telah selesai lengkap dengan isak tangis dari siswa-siswi kelas III yang sedih akan meninggalkan sekolah tercinta sebentar lagi. Rafael bersalaman dengan akmal serta kakak kelas lainnya sedangkan fitrah hanya bersalaman deng

Kisah Kelam ‘Aceh Bunuh Aceh’ Dimulai Desember

DESEMBER mengisahkan sejarah kelam di Aceh. Sejarah kelam yang dimaksud adalah perang saudara yang terjadi di Aceh antara  para Uleebalang dengan Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA). Perang saudara ini lebih dikenal dengan Perang Cumbok. Dikenal juga sebagai peristiwa revolusi sosial. Sejarah yang dikaburkan hingga kini karena catatannya sangat kelam. Dimana, di perang inilah, Aceh bunuh Aceh terjadi. Perang Cumbok adalah serangkaian pertempuran yang terjadi di Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh mulai 2 Desember 1945 hingga 16 Januari 1946. Perang ini pecah antara kalangan ulama (teungku) para pendukung proklamasi kemerdekaan Indonesia yang tergabung dalam Persatuan Ulama Seluruh Aceh melawan kubu uleebalang (teuku) yang lebih memilih kekuasaan Belanda, sehingga menyebabkan revolusi di tatanan sosial masyarakat Aceh pada saat itu. Kalau mau jujur, dua-duanya hanya dalam posisi ‘pion’ saat itu. Satu membela Indonesia dan satu lagi berada di pihak Belanda karena keadaan yang mem

Ar-Rabi' binti Mu'awwadz Wanita yang Diberi Kabar Gembira dengan Surga

Ar-Rabi’ Binti Mu’awwadz, sahabat wanita yang agung, beriman, dan juru dakwah, pelaku ba’iat dibawah pohon dalam bai’at ridhwan, yaitu bai’at untuk mati membela agama dan RasulNya. Nama lengkapnya Adalah Ar-Rabi’ binti Muawwadz ibn Harits ibn Rifa’ah ibn Harits ibn Sawad al-Anshariyyah an-Najadiyyah. Ibunya adalah ummu yazid binti Qaiz ibn Za’wa ibn Haram ibn jundub ibn an-Najjar. Ar-Rabi binti Mu’awwadz, Wanita yang beriman dan telah berbaiat, adalah salah seorang wanita yang paling awal masuk islam. Ia adalah wanita yang sungguh-sungguh dalam beriman, memiliki akidah yang kokoh, dan berpandangan lurus. Pasalnya, ia pernah bersama rasulullah dibawah pohon lalu melakukan baiat Ridhwan. Hal ini terjadi pada tahun 6 H, tahun yang sama dengan perjanjian hudaibiyah saat rasulullah pergi ke mekkah untuk menunaikan umroh pada bulan Dzulqa’dah Allah SWT pun telah ridha dengan semua sahabat yang melakukan Baiat Ridhwan tersebut. Dalam surah al-Fath ayat 18, Allah SWT b