Skip to main content

Wasiet (11)



 Penulis Musa AM

BAGI Riska kuliah di Aceh adalah pilihan paling sulit. Ia belum rela pisah dengan Si Mbok. Ia juga belum rela pisah dengan Dela dan Sri.

Dari kecil, ia tidak pernah pergi jauh dari Ngawi. Ia sekolah dasar hingga menengah atas, yang cuma berjarak tiga kilo dari rumahnya. Namun di sisi lain, ia juga sudah terlanjur janji dengan ayahnya untuk menyusul ke Aceh begitu ia lulus SMA. Ayahnya kini menagih janji itu. Ia juga sudah didaftar di salah satu universitas di Aceh.

Riska sendiri, banyak menerima informasi tak sedap soal Aceh belakangan ini.

“Ganja, GAM dan tsunami,” kata Supriadi, tetangganya saat ditanya soal Aceh.

“Orang GAM tak suka orang Jawa. Orang Jawa diusir dari Aceh. Banyak yang dibunuh,” kata Paijo, teman sekolahnya.

“Di sana sering terjadi gempa dan rawan Tsunami. Jika pindah ke sana, kamu bisa jadi korban tsunami,” ulas Tante Uti, adik ayahnya, saat ditanya pertanyaan yang sama soal Aceh.

Dari semua jawaban yang ia terima terkait Aceh, hanya penjelasan Dela yang sedikit membuatnya senang hati. “Pemuda Aceh ganteng-ganteng.”

Ayah Riska sendiri, sedikit tertutup tentang daerah yang menjadi tempat kerjanya kini. Ia dipindahkan ke Aceh sejak dua tahun lalu. Ia hanya mengatakan bahwa Aceh tak seseram seperti yang diberitakan oleh media-media.

Kalimat ‘tak seseram’ mengandung arti yang dalam. “Berarti masih seram ya Yah?” tanya Riska saat dirinya berkomunikasi dengan ayahnya, dua hari lalu. Pertanyaan Riska dijawab ayahnya dengan tertawa terbahak-bahak.

Tak ada ulasan menarik soal Aceh. Minimal, ini yang dia dapatkan saat berselancar di dunia maya. Semakin ia mencari infomasi tentang Aceh di social media dan media online, justru membuat ia semakin takut. Ia hanya menemukan berita soal demo, pembunuhan serta kekerasan, ketika menulis kata Aceh di Google.

Riska terdiam. Ia menarik nafas panjang yang kesekian kalinya.

“Del. Emang benar ya kalau pemuda Aceh itu ganteng-ganteng?” ujarnya kemudian. Dela yang sedang sibuk dengan sisa es teh manis, tersenyum dan mengangguk.

“Iya. Kayak Teuku Zaky yang actor itu. Paras Indo-Arab,” ujar Dela.

“Minimal sejelek-jeleknya pemuda Aceh, gak kayak Paijo yang naksir kamu itu,” kata Dela lagi sambil tertawa.

Mendengar kata Paijo, membuat Riska kembali cemberut. Anak juragan bakso itu memang menaruh hati padanya sejak kelas 1 SMA. Namun ditolak mentah-mentah oleh Riska. Tapi sikap ketus Riska tak membuat Paijo patah semangat dalam mengejar cintanya.

Terakhir, Paijo malah memanasinya soal informasi tak benar terkait Aceh. Tujuannya agar Riska tak pergi ke Aceh.

“Kalau membandingkan, jangan kayak Paijo dong. Sama yang lain,” ujar Riska kesal. Sri dan Dela tertawa kecil melihat kekesalan Riska.

“Nanti kalau ke Aceh dan kuliah di sana, kamu juga meski pakai jilbab ya Ris?” tanya Sri tiba-tiba.

“Kan di sana ada Syariat Islam. Kalau berduaan dengan lelaki bisa ditangkap dan dicambuk,” ujar Sri lagi. Dela mengangguk tanda setuju.

“Boncengan dengan lawan jenis juga ditangkap lho. Berat kali hidup orang Aceh ya,” tambah Dela.

Riska memegang kepala. Ia pening dengan celotehan kedua sahabatnya itu. Sejak tadi, keduanya terus menambah ketakutannya soal Aceh. Mereka seakan tak rela jika ia pergi ke Aceh.

“Nanti kalau boncengan sama cowok Aceh, pilih pilih dulu Ris! Cari yang ganteng. Minimal kalau ditangkap dan kemudian dinikahkan, tak rugi dan malu-malui,” ujar Dela polos.

“Ya cari yang kayak Teuku Zaky. Terus telepon polisi syariat di sana untuk ditangkap,” kata Sri setengah mengoda.  Ketiganya kemudian tertawa bareng.

Hari mulai sore. Garis garis di langit mulai menunjukan bahwa gelap akan segera datang. Tapi warung Mang Rojak masih terus ramai didatangi pelanggan. Namun ketiga dara ini seolah tak peduli dengan suasana di sekeliling. Mereka terus bercerita dan kemudian tertawa bersama-sama.

Mungkin ini adalah kesempatan terakhir bagi mereka untuk tertawa lepas seperti sekarang. Beberapa Minggu dari sekarang, ujian akhir sekolah menanti. Mereka harus focus belajar agar bisa lulus.

Kemudian Riska akan terbang ke Aceh untuk tinggal bersama orangtuanya di sana. Ia hanya akan pulang ke Ngawi setahun sekali atau bahkan tidak pulang sama sekali. Maka momen seperti sekarang akan sukar di ulang di masa depan.

[Bersambung]

Comments

Popular posts from this blog

Mudifah atau kunjungannya anak pondok

Hari kunjungan atau yang mereka sebutkan mudifah merupakan hari yang menyenangkan bagi anak pondok pesantren, karena hari itu berbeda dari hari-hari sebelumnya. Yups, hari yang begitu special seperti lebarannya anak pondok.pada hari kunjungan mereka bisa bertemu dengan sanak family dan semua keluarga besarnya, bayangkan mulai pagi hari mereka udah mulai antri hp dipengasuhan dengan batas waktu yang ditentukan mereka lengkap memesan semua pesanan sama keluarganya, yang paling utama adalah makanan, mulai dari nasi sampai dengan makanan penutup. Yang penulis herankan, terkadang dari segoni pesanannya cuma satu  yang dimakan,padahal semua makanan yang pesan sama aja dengan makanan sehari-hari di pondok juga, ah mungkin itu bawaan dari orangtua jadi berasal paling maknyuus gitu. Mudifah kata yang tak asing bagi penghuni pondok, yang kata mereka pondok adalah penjara suci,,,banyak istilah bagi mereka anak pondok, ada yang namanya penjara suci ?? tidak  lain adalah pesantren. Jadi...

JUJUR MENUJU KEMENANGAN

Puji dan syukur marilah sama-sama kita ucapkan kehadiran Allah SWT yang senantiasa mencurahkan rahmat dan NikmatNya kepda kita semua. Allah yang telah menghiasi manusia dengan kejujuran menghiasi malam dengan bulan purnama. Shalawat dan salam marilah sama-sama kita sanjungkan kepada seorang pemuda arab,imam diwaktu sholat ,pemimpin diwaktu perang, buah hati siti aminah dan jantung hati siti khadijah. Tidak lain dan tidak bukan yakni nabi besar Muhammad SAW. Yang telah menuntut umat manusia dari alam yang salam kea lam yang benar, dari alam yang penuh kebohongan ke alam yang penuh kejujuran. Bapak dewan hakim, bapak dan ibu pendamping, teman –teman peserta lomba, dan hadirin yang saya hormati. Dalam kesempatan ini saya ingin menyampaikan pidato dengan judul: “JUJUR MENUJU KEMENANGAN ” Tema kejujuran tengah menjadi buah bibir banyak orang. Dikoran, televise, warung kopi, ruang belajar bahkan dipasar. Kejujuran hadir dengan gaung yang membahana. Kita seakan baru mengenal k...

Rajah dan Penyakit Mistis di Aceh

Rajah dan Penyakit Mistis di Aceh by   Atjeh Watch     19/02/2022   in   Sejarah   Ilustrasi boneka voodoo, sihir, dukun. (Photo by Desertrose7 on Pixabay) Facebook Twitter WhatsApp Line Telegram Email Share Nusantara lekat dengan ragam praktik magis, salah satunya ialah rajah. Merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) V, rajah dijelaskan ke dalam beberapa pengertian, yang pada dasarnya mengarah kepada satu tujuan, yaitu digunakan sebagai azimat untuk menolak penyakit dan sebagainya. Dalam Seri Informasi Budaya berjudul “Rajah” Salah Satu Pengobatan Tradisional Ureueng Aceh terbitan Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh 2010, rajah diartikan sebagai mantra/doa atau simbol-simbol seperti tato pada masyarakat suku Maya dan Anca di Amerika. Selain dalam bentuk visual, rajah juga diucapkan secara lisan. Kendati cukup banyak tersebar di tengah masyarakat, rajah biasanya dipelajari secara turun-temurun alias diwariskan kepada keluarga atau ...