Skip to main content

Wasiet (4)

 




MALAM kian larut. Jam menunjukan pukul 03.15 WIB dini hari. Namun mata Ibnu tak kunjung terpejam. Perkataan Siwak seolah terus berulang di telinganya.

“Dia datang bersama pria muda berbaju loreng. Mereka terlihat mesra.”

Kalimat ini membuatnya gelisah. Ada rasa cemburu yang amat sangat muncul dari dalam tubuhnya. Jujur, perempuan cantik berkulit mulus itu menempati posisi istimewa dalam hatinya. Wanita itu adalah perempuan kedua yang membuatnya semangat menanti pagi beberapa tahun lalu. Tentu saja, perempuan nomor satu adalah almarhum ibunya.

Namun Darussalam menjadi saksi tentang akhir dari cerita itu.

“Semoga kini ia bahagia. Ia pantas mendapatkan pria yang lebih baik dari aku,” gumam Ibnu dalam hati. Kalimat itu terlalu pahit untuk diucapkan. Namun ia mencoba tegar dan berpikir realitis.

Ya, tak ada satu pun orangtua yang menginginkan anak perempuannya menikah dengan pria yang bekerja serabutan seperti dirinya. Apalagi ia kini sebatang karang. Almarhum ayah Ibnu tak meninggalkan harta benda. Demikian juga dengan almarhum ibunya.

Bertahun-tahun ia dan ibunya pindah-pindah demi menutup jati diri mereka. Tinggal di rumah reot serta makan dari hasil belas kasihan orang.

Semua pekerjaan dilakoni ibunya agar ia bisa menempuh pendidikan layaknya anak-anak Aceh pada umumnya. Mulai dari upah mencuci pakaian hingga cuci piring di warung makan Padang di seputaran Kota Bireuen. Tujuannya cuma satu, sang pemilik yang baik hati itu membungkus nasi lengkap dengan lauk pauk istimewa untuk di bawah pulang ke rumah setiap sorenya. Serta ada sedikit uang jajan untuk dirinya sekolah di pagi hari.

“Kau anak seorang pejuang. Kakekmu juga pejuang. Jangan ada air mata untuk setiap masalah yang kau hadapi.”

Kalimat itu yang selalu diulang-ulang ibunya setiap kali ia menangis karena ejekan teman di sekolah.

Diejek karena sepatu yang bolong untuk ke sekolah. Atau tak bisa membaca hingga kelas 5 Sekolah Dasar.

“Masalah tak akan selesai dengan menangis. Lawan ketakutanmu dan belajarlah setiap hari. Sebuah batu yang kokoh pun akan hancur jika tiap hari ditetesi air hujan,” pesan ibunya setiap kali ia menangis.

Terpaan ibunya tiap hari membuat keteguhan hati Ibnu menjadi sekuat batu. Sama seperti namanya, Ibnu Hajar. Nama ini dalam bahasa Arab. Artinya si anak batu. Namun keteguhan hatinya acap kali runtuh sejak ia berkenalan dengan si gadis cantik tadi. Padahal mereka memiliki karakter serta latar belakang yang jauh berbeda.

“Oh tuhan, kenapa aku tidak bisa tidur. Kenapa aku masih memikirkan Riska,” gumam Ibnu lagi dalam hati.

Ia kemudian bangun dari tempat tidur. Mengusap wajah dan memandangi dinding kamarnya. Di sana ada brosur pendaftaran magister salah satu universitas di Australia. Sekolah yang menjadi impiannya selama ini.

Ibnu tersenyum. “Tunggu aku di sana.  Aku pasti datang.”

Ibnu mencoba menarik nafas dalam-dalam. Ia kemudian membuka jendela kamar yang menghadap langsung ke jalan raya yang kini kian sepi. Anginnya berhembus kencang. Namun suasana dingin merupakan hal yang biasa dihadapinya kini.

Ibnu memandang jauh kedepan. Rumah-rumah di depannya seolah hilang dan menjadi ruang kosong. Seolah hanya dia dan tuhan pada malam ini.

“Ayah, aku tak akan menyerah. Akan aku buktikan bahwa kerja kerasku tak akan sia-sia. Aku tak akan mengiba demi bisa sekolah seperti pesanmu,” gumam Ibnu.

“Aku pasti menjadi orang seperti harapanmu. Tak ada air mata. Tak ada yang bisa membendung tekatku untuk mewujudkan cita-cita kita. Salamku untuk Ibu dan abang di sana. Bilang sama mereka, aku baik-baik saja di sini.”

[Bersambung]

Comments

Popular posts from this blog

Mudifah atau kunjungannya anak pondok

Hari kunjungan atau yang mereka sebutkan mudifah merupakan hari yang menyenangkan bagi anak pondok pesantren, karena hari itu berbeda dari hari-hari sebelumnya. Yups, hari yang begitu special seperti lebarannya anak pondok.pada hari kunjungan mereka bisa bertemu dengan sanak family dan semua keluarga besarnya, bayangkan mulai pagi hari mereka udah mulai antri hp dipengasuhan dengan batas waktu yang ditentukan mereka lengkap memesan semua pesanan sama keluarganya, yang paling utama adalah makanan, mulai dari nasi sampai dengan makanan penutup. Yang penulis herankan, terkadang dari segoni pesanannya cuma satu  yang dimakan,padahal semua makanan yang pesan sama aja dengan makanan sehari-hari di pondok juga, ah mungkin itu bawaan dari orangtua jadi berasal paling maknyuus gitu. Mudifah kata yang tak asing bagi penghuni pondok, yang kata mereka pondok adalah penjara suci,,,banyak istilah bagi mereka anak pondok, ada yang namanya penjara suci ?? tidak  lain adalah pesantren. Jadi...

JUJUR MENUJU KEMENANGAN

Puji dan syukur marilah sama-sama kita ucapkan kehadiran Allah SWT yang senantiasa mencurahkan rahmat dan NikmatNya kepda kita semua. Allah yang telah menghiasi manusia dengan kejujuran menghiasi malam dengan bulan purnama. Shalawat dan salam marilah sama-sama kita sanjungkan kepada seorang pemuda arab,imam diwaktu sholat ,pemimpin diwaktu perang, buah hati siti aminah dan jantung hati siti khadijah. Tidak lain dan tidak bukan yakni nabi besar Muhammad SAW. Yang telah menuntut umat manusia dari alam yang salam kea lam yang benar, dari alam yang penuh kebohongan ke alam yang penuh kejujuran. Bapak dewan hakim, bapak dan ibu pendamping, teman –teman peserta lomba, dan hadirin yang saya hormati. Dalam kesempatan ini saya ingin menyampaikan pidato dengan judul: “JUJUR MENUJU KEMENANGAN ” Tema kejujuran tengah menjadi buah bibir banyak orang. Dikoran, televise, warung kopi, ruang belajar bahkan dipasar. Kejujuran hadir dengan gaung yang membahana. Kita seakan baru mengenal k...

Rajah dan Penyakit Mistis di Aceh

Rajah dan Penyakit Mistis di Aceh by   Atjeh Watch     19/02/2022   in   Sejarah   Ilustrasi boneka voodoo, sihir, dukun. (Photo by Desertrose7 on Pixabay) Facebook Twitter WhatsApp Line Telegram Email Share Nusantara lekat dengan ragam praktik magis, salah satunya ialah rajah. Merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) V, rajah dijelaskan ke dalam beberapa pengertian, yang pada dasarnya mengarah kepada satu tujuan, yaitu digunakan sebagai azimat untuk menolak penyakit dan sebagainya. Dalam Seri Informasi Budaya berjudul “Rajah” Salah Satu Pengobatan Tradisional Ureueng Aceh terbitan Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh 2010, rajah diartikan sebagai mantra/doa atau simbol-simbol seperti tato pada masyarakat suku Maya dan Anca di Amerika. Selain dalam bentuk visual, rajah juga diucapkan secara lisan. Kendati cukup banyak tersebar di tengah masyarakat, rajah biasanya dipelajari secara turun-temurun alias diwariskan kepada keluarga atau ...