BAB I
PENDAHULUAN


I.     Tangggal percobaan        :  31 Desember 2012
II.  Tujuan Percobaan           : untuk mengindentifikasi beberapa senyawa yang terkandung
 dalam daun salam.

III.     Dasar Teori                   :
Menurut Anonim(1985), “Penapisan fitokimia dilakukan sebagai pemeriksaan kimia pendahuluan dari simplisia sebelum dilakukan tahap isolasi lebih lanjut. Pemeriksaan terhadap kandungan kimia yang terdapat dalam tumbuhan tergantung kepada sensitivitas dari prosuder analisis dan banyaknya kandungan kimia senyawa yang diidentifikasi .
Menurut flowerizayulia(2012), “Tanaman daun salam dapat ditemukan dari dataran rendah sampai pegunungan dengan ketinggian 1800 m diatas permukaan laut. Pohon salam yang biasanya tumbuh liar dihutan dan pegunungan bisa mencapai ketinggian 25 meter dan lebar pohon 1.3 m. Pohon salam juga dapat tumbuh dipekarangan – pekarangan rumah dengan keadaan tanah yang gembur.Daun rasanya kelat dan astrigen, daun salam biasa dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia sebagai pelengkap bumbu dapur, digunakan dalam masakan sebagai penambah aroma. Selain daun yang dipakai sebagai bumbu, kulit pohonnya biasa dipakai sebagai bahan pewarna jala atau anyaman bambu. Perbanyakan tumbuhan ini bisa dilakukan dengan biji, cangkok atau stek.Pohon berukuran sedang, mencapai tinggi 30 m dan gemang 60 cm. Pepagan (kulit batang) berwarna coklat abu-abu, memecah atau bersisik. Ditinjau dari kajian saintifik, daun salam mengandung sejenis minyak atsiri yang dapat mencegah pertumbuhan berbagai bakteri. Untuk tujuan pengobatan tradisional, bagian yang digunakan adalah daun, kulit, batang, akar, dan buah juga berkahsiat sebagai obat.Pohon salam bisa dimanfaatkan untuk mengatasi asam urat, stroke, kolesterol tinggi, melancarkan peredaran darah, radang lambung, diare, gatal-gatal, kencing manis, dan lain-lain. Kandungan kimia yang dikandung tumbuhan ini adalah minyak atsiri, tannin, dan flavonoida. Bagian pohon yang bisa dimanfaatkan sebagai obat adalah daun, kulit batang, akar, dan buah. Daun salam mengandung minyak atsiri (sitral eugenol), tanin dan flavonoid. Dengan kromatografi lapis tipis disimpulkan bahwa minyak atsiri daun salam  dari seskuiterpen lakton mengandung fenol. Konsentrasi terkecil minyak atsiri yang mampu menghambat pertumbuhan E. Coli adalah 40% sedangkan terhadap S. Areus sekitar 5%. Uji mikrobiologi dengan menggunakan metode cakram menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun salam dapat menghambat bakteri E. Coli, Vibrio Chaera, Salmonela sp dan ekstrak air daun salam memiliki efek hipoglikemik (menurunkan kadar gula) .
Menurut Katzer(2004), “Daun salam merupakan salah satu pemberi flavor untuk makanan, diperoleh dari tanaman Eugenia polyantha wight . tanaman ini merupakan tanaman asli asia tenggara dan ditemukan di Burma, Malaysia dan Indonesia serta sangat sulit ditemukan di Negara barat, kecuali di surinama yang banyak terdapat orang Indonesia. Daun salam biasanya digunakan dalam bentuk segar maupun kering dalam masakan Indonesia terutama di Sumatra, jawa dan paling banyak di bali.Minyak atsiri adalah zat berbau atau biasa disebut dengan minyak esential, minyak eteris karena pada suhu kamar mudah menguap di udara terbuka tanpa mengalami penguraian. Istilah esential atau minyak yang berbau wangi dipakai karena minyak atsiri mewakili bau dari tanaman penghasilnya. Dalam keadaan murni dan segar biasanya minyak atsiri umumnya tidak berwarna atau kekuning-kuningan dengan rasa dan bau yang khas. Namun dalam penyimpanan lama minyak atsiri dapat teroksidasi dan membentuk resi serta warnanya berubah menjadi lebih gelap. Sumber minyak atsiri dapat diperoleh dari setiap bagian tanaman seperti daun, bunga, buah, biji, batang, akar, ataupun rimpang. Selain itu dapat larut baik dalam etanol dan pelarut organik, namun sukar larut dalam air dan kurang larut dalam etanol yang kadarnya kurang dari 70 %. Umumnya zat organik pada minyak atsiri tersusun dari unsur C, H, dan O, berupa senyawa alifatis atau aromatis meliputi kelompok hidrokarbon, ester, eter, aldehid, keton, alkohol dan asam.Secara kimia minyak atsiri bukan merupakan senyawa tunggal, tetapi tersusun dari berbagai macam komponen yang secara garis besar terdiri dari kelompok terpenoid dan fenil propan. Pengelompokkan tersebut berdasarkan pada awal terjadinya minyak atsiri di dalam tanaman.Terpenoid berasal dari suatu unit sederhana yang disebut sebagai isoprena. Sehingga dapat dikatakan komponen minyak atsiri termasuk senyawa isoprenoid, karena molekul- molekulnya tersusun dari unit-unit isopren. Sementara fenil propan terdiri dari gabungan inti benzen dan propana. Penyusun minyak atsiri dari kelompok terpenoid dapat berupa monoterpen dan seskuiterpen yang merupakan komponen utama minyak atsiri. Minyak atsiri dapat digunakan sebagai: Menarik serangga (penyerbukan), Untuk kosmetik / parfum ,Penolak serangga, Sebagai bumbu masak, Antiseptik (obat), Karminativum.
Adapun sifat-sifat minyak atsiri adalah sebagai berikut: Tersusun oleh bermacam-macam komponen senyawa, Bau khas, Rasa getir, tajam, menggigit, memberi kesan hangat sampai panas atau justru dingin bila terasa di kulit, Dalam keadaan murni mudah menguap pada suhu kamar, Tidak bisa disabunkan dengan alkali dan tidak menjadi tengik, Tidak stabil terhadap pengaruh lingkungan, baik oleh oksigen, matahari atau panas, Indeks bias umumnya tinggi dan bersifat optis aktif (memiliki atom C asimetrik), Kelarutannya sangat kecil di dalam air, Mudah larut dalam pelarut organik. Minyak atsiri terkandung dalam bernagai organ, seperti di dalam rambut kelenjar, dalam sel-sel parenkim, di dalam saluran minyak, di dalam rongga-rongga skizogen dan lisigen ataupun terkandung dalam semua jaringan.
Menurt Anonim(1989),Minyak atsiri dapat terbentuk langsung oleh protoplasma akibat adanya peruraian lapisan resin dari dinding sel atau hidrolisis dari glikosida tertentu. Peranan utama minyak atsiri pada tumbuhan itu sendiri adalah sebagai pengusir serangga (mencegah bunga dan daun rusak), serta sebagai pengusir hewan pemakan daun lainnya. Namun sebaliknya minyak atsiri juga berfungsi sebagai penarik serangga guna membantu penyerbukan silang dari bunga.Tanin merupakan suatu senyawa golongan yang terbesar dari senyawa kompleks yang tersebar luas pada dunia tumbuhan. Tanin dianggap senyawa kompleks yang dibentuk dari campuran polifenol yang sangat sukar dipisahkan karena tidak dapat dikristalkan. Tanin umumnya terdapat dalam organ: daun, buah, kulit batang, dan kayu. Didalam tumbuhan letak tanin terpisah dari protein dan enzim sitoplasma, tetapi bila jaringan rusak, misalnya bila hewan memakannya maka reaksi penyamakan dapat terjadi. Reaksi ini menyebabkan protein lebih sukar dicapai oleh cairan pencernaan hewan. Fungsi tanin dalam tumbuhan adalah untuk menghalau hewan pemakan tumbuhan karena berasa sepat.Secara kimia tanin dapat dibedakan dalam 2 jenis: Tanin terkondensasi, hampir terdapat didalam paku-pakuan dan Gymnospermae, serta tersebar luas dalam angiospermae, terutama pada jenis tumbuhan berkayu. Merupakan senyawa inti fenol dengan karbohidrat atau protein. Contohnya: proantosianidin (flavolan).Tanin terkondensasi secara biosintetis dapat dianggap terbentuk dengan cara kondensasi katekin tunggal yang membentuk senyawa dimer dan kemudian oligodimer yang lebih tinggi. Nama lain untuk tanin terkondensasi ialah proantosianidin karena bila direaksikan dengan asam panas, beberapa ikatan karbon-karbon penghubung satuan terputus dan dibebaskanlah monomer antosianidin. Kebanyakan proantosianidin adalah prosianidin, ini berarti bila direaksikan dengan asam akan menghasilkan sianidin.
Proantosianidin dapat dideteksi langsung dalam jaringan tumbuhan hijau dengan mencelupkan kedalam HCl 2M mendidih selama setengah jam. Bila terbentuk warna merah yang dapat diekstraksi dengan amil atau butil alkohol, maka ini merupakan bukti adanya senyawa tersebut.Tanin terhidrolisis/dapat dihidrolisis, penyebarannya terbatas pada tumbuhan Dicotyledonae. Contohnya: Galotanin dan Elagitanin. Yang merupakan senyawa ester dari asam galat (polihidrat) dengan glukosa.
Menurut Harbone, J.B. (1987), Simplisia yang mengandung Tanin : Catechu (gambir, Pale catechu) Adalah sari air kering yang diperoleh dari daun yang diperoleh dari daun dan ranting muda.
Tanaman asal               : Uncaria gambier (Hunter) Roxb
Familia                        : Rubiaceae
Pemerian                     : tidak berbau, rasa mula-mula pahit dan sangat sepat, kemudian agak manis.
Tempat tumbuh           : Indonesia dan Malaysia
Pemakaian                   : Astringen kuat
Kandungan                 : d-katekhin 7-33% dan Asam Katekutanat 22-50%
Pembentukan busa yang mantap sewaktu mengekstraksi tumbuhan atau waktu memekatkan ekstrak tumbuhan merupakan bukti akan adanya saponin. Semua flavonoid, menurut strukturnya, merupakan senyawa induk flavon yang terdapat berupa tepung putih pada tumbuhan Primula, dan semuanya mempunyai sejumlah sifat yang sama. Saat ini dikenal sekitar 20 jenis flavonoid.
Flavonoid terutama berupa senyawa yang larut dalam air. Mereka dapat diekstraksi dengan alkohol 70% dan tetap ada pada lapisan air setelah ekstrak dikocok dengan eter minyak bumi. Flavonoid berupa senyawa fenol, karena itu warnanya berubah bila di tambah basa atau amoniak, jadi flavonoid mudah dideteksi pada kromatogram atau dalam larutan. Flavonoid mengandung sistem aromatik yang terkonyugasi dan karena itu menunjukan pita serapan kuat pada spektrum UV dan spektrum tampak. Flavonoid umumnya terdapat dalam tumbuhan, terikat pada gula sebagai glikosida dan aglikon flavonoid. Flavonoid terdapat dalam tumbuhan sebagai campuran, jarang sekali dijumpai hanya flavonoid tunggal dalam jaringan tumbuhan. Disamping itu, sering terdapat campuran yang terdiri atas flavonoid yang berbeda kelas. Antosianin berwarna yang terdapat dalam daun bunga hampir selalu disertai oleh flavon dan flavonolol tanwarna.
Menurut arkham, Flavonoid mempunyai rumus umum, C6C3C6.Aktivitas biologi flavonoid antara lain,:
- anti kanker                : kuersetin, mirisetin
- anti oksidant             : kuersetin, antosianidin, dan prosianidin
- anti inflamasi            : apigenin, taksifolin, luteolin, kuersetin
- anti alergi                  : nobeletin, tangeretin
- anti hipertensi           : prosianidin
- anti virus                   : amentiflavum, skutellarein, kuersetin
                                                                             






















                                                                        BAB II      
PROSEDUR DAN HASIL PRAKTIKUM


1V.  Alat dan Bahan
Alat :
            Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah corong pisah, gelas kimia, erlenmeyer, kertas saring , spatula
Bahan :
Daun salam segar, alkohol, etil asetat, kloroform, Mg, HCl

V.  Prosedur kerja
1.    Metode ekstraksi dengan corong pisah
Diambil daun salam segar secukupnya lalu dirajang kecil-kecil, setelah itu dimasukkan dalam gelas kimia ditambahkan alkohol secukupnya ditekan daun salam tersebut dengan spatula hingga keluar ekstrak airnya. hasil Ekstrak hijau yang keluar tersebut disaring dalam erlenmeyer dan dimasukkan dalam corong pisah. Selanjutnya dilakukan pengujian terhadap senyawa yang terdapat dalam daun salam seperti flavonoid, minyak atsiri, reaksi penyabunan, alkaloid, tanin steroid, flavonoid.
a.    Uji saponin
Hasil Ekstrak hijau daun salam yang dimasukkan dalam corong pisah tadi dikocok-kocok hingga berbusa, kemudian didiamkan selama 2-3 menit apabila masih berbusa, menandakan adanya senyawa saponin dalam daun salam
b.   Uji minyak atsiri
Hasil ekstrak daun salam yang dimasukkan dalam corong pisah ditambahkan kloroform hingga terbentuk dua lapisan, lapisan paling bawah disaring dan dimasukkan dalam erlenmeyer, apabila adanya lemak dipinggiran erlenmeyer yang berwarna putih menandakan daun salam mengandung minyak atsiri




c.    Uji reaksi penyabunan
Hasil ekstrak daun salam yang dimasukkan dalam corong pisah ditambahkan kloroform dan etil asetat hingga berubah warna dari hijau tua, apabila warnanya menjadi hijau susu mengental( warna sabun) berarti terjadinya reaksi penyabunan
d.   Uji flavonoid
 Hasil ekstrak daun salam yang dimasukkan dalam corong pisah ditambahkan kloroform hingga terbentuk dua lapisan, lapisan paling bawah (lapisan minyak)  disaring dan dimasukkan dalam erlenmeyer, diambil dengan pipet tetes ekstrak tersebut dan dimasukkan dalam tabung reaksi dtambahkan Mg dan HCl apabila adanya perubahan warna menjadi kuning menandak adanya senyawa flavonoid.

V.  Sebelum percobaan
No
Bahan
bentuk
warna
1
Daun salam segar
padat
hijau
2
Asam klorida
cair
Tidak berwarna
3
Etil asetat
Cair
Tidak berwarna
4
Mg
Serbuk
Abu-abu
5
alkohol
Cair
Tidak berwarna
6
Kloroform
Cair
Tidak berwarna

VI.   Sesudah Percobaan       
a.    Uji saponin
Daun salam dirajang kecil-kecil + alkohol lalu diekstrak hingga keluar hasil ekstraknya berwarna hijau, masukkan dalam corong pisah dikocok pertama berbusa namun tidak sampai 2 menit → busa menghilang (tidak mengandung saponin).




b.   Uji minyak atsiri
Daun salam dirajang kecil-kecil + alkohol lalu diekstrak hingga keluar hasil ekstraknya berwarna hijau, masukkan dalam corong pisah + kloroform ,terbentuk dua lapisan kemudian lapisan bawah( lapisan minyak) disaring dalam erlenmeyer → adanya lemak dipinggiran erlenmeyer menandakan adanya minyak atsiri.
c.    Uji reaksi penyabunan
Daun salam dirajang kecil-kecil + alkohol lalu diekstrak hingga keluar hasil ekstraknya berwarna hijau, masukkan dalam corong pisah + kloroform + etil asetat → hijau susu( warna mengental)
d.   Uji flavonoid
Daun salam dirajang kecil-kecil + alkohol lalu diekstrak hingga keluar hasil ekstraknya berwarna hijau, masukkan dalam corong pisah + kloroform ,terbentuk dua lapisan kemudian lapisan bawah( lapisan minyak) disaring dalam erlenmeyer. Diambil dimasukkan dalam tabung reaksi + Mg + HCl  → terbentuk warna kuning ( positif mengandung flavonoid)

















BAB III
PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN


VII. Pembahasan
Pada penelitian yang kami lakukan terhadap senyawa yang terkandung pada daun salam, kami menguji beberapa senyawa yang terkandung dalam daun tersebut seperti flavonoid,saponin steroid, tanin, minyak atsiri dan reaksi penyabunan dengan menggunakan bahan bakunya daun salam segar dan memakai metode ekstraksi corong pisah.
Pertama Diambil daun salam segar secukupnya lalu dirajang kecil-kecil, setelah itu dimasukkan dalam gelas kimia ditambahkan alkohol secukupnya ditekan daun salam tersebut dengan spatula hingga keluar ekstrak airnya. hasil Ekstrak hijau yang keluar tersebut disaring dalam erlenmeyer dan dimasukkan dalam corong pisah. Selanjutnya dilakukan pengujian terhadap senyawa yang terdapat dalam daun salam seperti flavonoid, minyak atsiri, reaksi penyabunan, alkaloid, tanin steroid, flavonoid.
Untuk menguji adanya kandungan saponin pada daun salam. Pertama, Daun salam dirajang kecil-kecil ditambahkan alkohol lalu diekstrak hingga keluar hasil ekstraknya berwarna hijau, masukkan dalam corong pisah dikocok sampai berbusa kemudian didiamkan sampai 2-3 menit, namun tidak lama busanya menghilang yang menandakan pada daun salam tidak terdapat senyawa saponin.
Untuk membuktikan adanya minyak atsiri pada daun salam sama dengan menguji senyawa saponin.pertama,Daun salam dirajang kecil-kecil ditambahkan alkohol lalu diekstrak hingga keluar hasil ekstraknya berwarna hijau, masukkan dalam corong pisah ditambahkan kloroform ,terbentuk dua lapisan kemudian lapisan bawah( lapisan minyak) disaring dalam erlenmeyer, hingga adanya lemak yang berwarna putih dipinngiran erlenmeyer yang menandakan adanya kandungan minyak atsiri.
Untuk menguji adanya reaksi penyabunan,Daun salam dirajang kecil-kecil ditambahkan alkohol lalu diekstrak hingga keluar hasil ekstraknya berwarna hijau, masukkan dalam corong pisah ditambahkan kloroform dan etil asetat hingga terbentuk warna hijau susu( warna mengental) sehingga adanya reaksi penyabunan pada daun salam
Pada identifikasi flavonoid, Daun salam dirajang kecil-kecil ditambahkan alkohol lalu diekstrak hingga keluar hasil ekstraknya berwarna hijau, masukkan dalam corong pisah ditambahkan kloroform ,terbentuk dua lapisan kemudian lapisan bawah( lapisan minyak) disaring dalam erlenmeyer. Diambil dimasukkan dalam tabung reaksi  Mg dan HCl  . Sehingga terjadi perubahan warna menjadi warna kuning . Hal ini menandakan bahwa uji flavonoid positif (+1) terhadap ekstrak daun salam. Flavonoid mempunyai banyak fungsi seperti : sebagai pigmen warna, fungsi fisiologi dan patologi, fungsi farmakologi dan flavonoid dalam makanan, antiflamasi, antikanker, antifertilitas, antiviral, antidiabetes, antidepresant, diuretik dll.Flavonoid inilah yang dikandung oleh daun salam sehingga banyak banyak berfungsi dalam kesehatan.

VIII.       Kesimpulan
Dari percobaan diatas dapat disimpulkan bahwa :
1.    daun salam mengandung berbagai senyawa – senyawa kimia bermanfaat salah satunya yang terbukti positif adalah  flavonoid, tanin, minyak atsiri, alkaloid.
2.    Pada identifikasi flavonoid, Daun salam dirajang kecil-kecil ditambahkan alkohol lalu diekstrak hingga keluar hasil ekstraknya berwarna hijau, masukkan dalam corong pisah ditambahkan kloroform ,terbentuk dua lapisan kemudian lapisan bawah( lapisan minyak) disaring dalam erlenmeyer. Diambil dimasukkan dalam tabung reaksi  Mg dan HCl  . Sehingga terjadi perubahan warna menjadi warna kuning . Hal ini menandakan bahwa uji flavonoid positif
3.    pada penelitian yang kami lakukan terhadap daun salam terbukti mengandung minyak atsiri, flavonoid, reaksi pIenyabunan
4.    untuk membuktikan terjadinya reaksi penyabunan, Daun salam dirajang kecil-kecil ditambahkan  alkohol lalu diekstrak hingga keluar hasil ekstraknya berwarna hijau, masukkan dalam corong pisah ditambahkan kloroform dan etil asetat berwarna hijau susu( warna mengental).
5.    Flavonoid mempunyai banyak fungsi seperti : sebagai pigmen warna, fungsi fisiologi dan patologi, fungsi farmakologi dan flavonoid dalam makanan, antiflamasi, antikanker, antifertilitas, antiviral, antidiabetes, antidepresant, diuretik dll.Flavonoid inilah yang dikandung oleh daun salam sehingga banyak banyak berfungsi dalam kesehatan